Bukan Tidak Peduli, Tapi Tak Tahu Cara Merasa: Avoidant dalam Perspektif Komunikasi Hati

Aqila Calista Putri Iswandi (Mahasiswa Universitas Pamulang)

- Penulis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kirim Artikel | Dalam kehidupan sosial modern saat ini, komunikasi sering kali di asumsikan sebagai sesuatu yang berjalan secara alami bahwa setiap orang, pada dasar nya mampu mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada orang lain. Tetapi kenyataan berkata lain, ada Sebagian orang yang justru memilih diam Ketika hati nya terasa penuh, mengihalng Ketika hubungan mulai terasa semakin dekat, dan justru malah menarik diri di saat orang lain paling membutuhkan kehadiaran mereka. Pola ini dikenal dalam dunia psikologis sebagai Avoidant hal ini merupakan sebuah gaya kelekatan (attachment style) yang ditandai oleh kecenderungan menjaga jarak secara emosional.

Tulisan ini bermula dari kegelisahan atas kesalahpahaman tersebut. Dengan menggunakan kerangka Teori Komunikasi Hati (HCT) yang di kembangkan dalam kajian ilmu komunikasi, penulis ingin menawarkan cara pendang yang lebih adil dan empatik dalam membahas fenomena avoidant, bukan sebagai cacat kepribadian, melainkan sebagai persoalan komunikasi yang dapat di pahami dan, pada akhirnya, dapat dikelola.

Isi Opini

Inti dari Teori Komunikasi Hati adalah keyakinan bahwa komunikasi yang efektif tidak dimulai dari kata-kata, melainkan dari proses olah pikir dan olah rasa. Olah pikir adalah suatu kemampuan mengolah setiap pikiran agar mengahislkan sesuatu yang baik dan konstruktif, sementara olah rasa adalah kepekaan seseorang dalam mengelola perasaannya agar dapat merespons lingkungan lingkungan sosial secara tepat. Keduanya berjalan beriringan dan bermuara pada sikap, yang kemudian membentuk perilaku nyata dalam berkomunikasi.

Baca Juga :  Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

Di sinilah letak masalah utama individu avoidant: bukan ketiadaan rasa, melainkan kesulitan dalam proses olah rasa. Perasaan itu ada, mungkin bahkan sangat kuat, namun tidak pernah diajarkan, dilatih, atau diberi ruang untuk diolah dan disampaikan. Akibatnya, energi emosional yang seharusnya menjadi jembatan komunikasi justru tersumbat di dalam, dan yang tampak dari luar hanya keheningan.

Dalam tiga tahapan komunikasi hati menurut Nyonyorino(2014); kenali hati, desain hati, dan berbagi hati, individu avoidant  umumnya terhenti di tahap pertama. Mereka belum tuntas mengenali hati mereka sendiri, sehinga melompat ke tahap berbagi terasa seperti sebuah tuntutan yang terlalu berat.

Namun HCT juga menegaskan bahwa komunikasi yang baik bukanlah bakat bawaan, melainkan hasil dari manajemen yang bisa dilatih. Pola avoidant  bukan takdir, ia adalah kebiassaan yang terbentuk dari pengalaman, dan dengan kesadaran serta Latihan yang konsisten, ia bisa diubah. Solusi nya bukan memaksa mereka untuk terbuka, melainkan mendampingi mereka dalam proses olah pikir dan olah rasa yang selama ini belum sempat dijalani.

Baca Juga :  Zona Dua Satpam: Mengenal Titik Lemah dalam Strategi Pengamanan

Kesimpulan

Avoidant adlah salah satu fenomena komunikasi yang paling sering disalahpahami. Di balik jarak yang mereka jaga dan diam yang mereka pilih, bukan ketidak pedulian yang bersemayam, melainkan hati yang belum terlatih untuk mengungkapkan.

Teori Komunikasi Hati memberikan kita secara lebih manusiawi. Bahwa komunikasi yang efektif berakar dari olah pikir dan olah rasa yang sehat; bahwa sampah hati secara tidak terkelola akan terus menghambat seseorang untuk terhubung secara tulus; dan bahwa perubahan itu mungkin bukan melauli paksaan, melainkan melalui proses mengenal hati sendiri secara berharap.

Pada akhirnya, komunikasi yang sejati bukan tentang siapa yang paling fasih berbicara, tetapi tentang siapa yang cukup berani untuk jujur kepada diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kepada orang lain. Dan keberanian itu, sekecil apapun bentuknya, selalu layak untuk di hargai.

Follow WhatsApp Channel kirimartikel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tamsil Linrung: Seorang Sahabat, Orang Tua, dan Guru
Standar Jumlah Kata dalam Artikel Online: Antara Kebutuhan Pembaca dan Strategi SEO
Clickbait Geopolitik
Zona Dua Satpam: Mengenal Titik Lemah dalam Strategi Pengamanan
Mengenal Rahasia Autofagi pada Tubuh Manusia
Pengalaman Pertama Kerja Outsourcing: Apa yang Harus Dipersiapkan?
Etika Berbicara, Bisnis Berkembang: Koneksi Tak Terbantahkan antara Komunikasi dan Kepercayaan
Efektivitas Komunikasi Langsung dan Tidak Langsung dalam Meningkatkan Pemahaman Antar Individu
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:09 WIB

Bukan Tidak Peduli, Tapi Tak Tahu Cara Merasa: Avoidant dalam Perspektif Komunikasi Hati

Jumat, 24 April 2026 - 11:12 WIB

Tamsil Linrung: Seorang Sahabat, Orang Tua, dan Guru

Selasa, 21 April 2026 - 05:53 WIB

Standar Jumlah Kata dalam Artikel Online: Antara Kebutuhan Pembaca dan Strategi SEO

Senin, 9 Februari 2026 - 06:10 WIB

Clickbait Geopolitik

Minggu, 25 Januari 2026 - 10:58 WIB

Zona Dua Satpam: Mengenal Titik Lemah dalam Strategi Pengamanan

Berita Terbaru

Teknologi

Peran SDM dan Teknologi dalam Menghadapi Perubahan Bisnis

Jumat, 2 Okt 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Minggu, 28 Jun 2026 - 12:25 WIB