Kirim Artikel | Bayangkan sebuah perusahaan baru saja membeli sistem digital dengan harga mahal. Semua dokumen sudah bisa diproses secara elektronik, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual mulai otomatis, dan perusahaan bahkan sudah menyediakan berbagai perangkat berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Di atas kertas, perusahaan tersebut terlihat sudah melakukan transformasi digital. Namun, bagaimana jika karyawannya justru masih bingung menggunakan sistem tersebut? Bagaimana jika sebagian karyawan menggunakan AI tanpa memahami aturan penggunaannya? Atau lebih buruk lagi, teknologi sudah tersedia tetapi cara kerja orang-orang di dalam perusahaan tidak pernah benar-benar berubah?
Menurut saya, di situlah persoalan transformasi digital yang sering luput dibicarakan. Kita terlalu sering menganggap transformasi digital sebagai persoalan teknologi, padahal teknologi hanya salah satu bagian dari perubahan. Transformasi yang sebenarnya terjadi justru pada manusia, proses kerja, dan cara perusahaan mengambil keputusan. Perusahaan bisa membeli teknologi dalam hitungan hari, tetapi membangun SDM yang mampu menggunakannya secara tepat membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Fenomena tersebut semakin relevan ketika melihat perkembangan penggunaan AI di Indonesia. Laporan Microsoft dan LinkedIn mengenai kondisi AI di tempat kerja Indonesia pada 2024 menunjukkan bahwa 92% knowledge workers yang disurvei sudah menggunakan generative AI dalam pekerjaannya. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 75%. Pada saat yang sama, 48% pemimpin bisnis di Indonesia yang disurvei mengaku khawatir organisasinya belum memiliki visi dan rencana yang jelas untuk menerapkan AI.
Angka tersebut menurut saya menarik karena menunjukkan sebuah kontradiksi. Di satu sisi, karyawan sudah bergerak lebih cepat menggunakan teknologi. Di sisi lain, perusahaan belum tentu memiliki strategi yang sama cepatnya. Bahkan, Microsoft dan LinkedIn mencatat 76% karyawan Indonesia dalam survei tersebut membawa perangkat atau solusi AI mereka sendiri ke tempat kerja. Kondisi seperti ini memang menunjukkan inisiatif belajar yang tinggi, tetapi juga menimbulkan persoalan mengenai keamanan data dan tata kelola penggunaan AI di perusahaan.
Artinya, masalah transformasi digital bukan lagi sekadar “apakah perusahaan sudah menggunakan teknologi?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah “apakah perusahaan sudah siap mengelola manusia yang menggunakan teknologi tersebut?”
Menurut saya, perusahaan perlu berhenti melihat SDM hanya sebagai pengguna sistem. Karyawan bukan sekadar orang yang diberi username, password, lalu diminta mengikuti prosedur baru. Ketika teknologi mengubah cara kerja, kemampuan yang dibutuhkan karyawan juga ikut berubah. Karyawan bagian administrasi, misalnya, mungkin tidak perlu menjadi programmer. Namun, mereka tetap perlu memahami pengolahan data, keamanan informasi, penggunaan aplikasi digital, serta cara memeriksa kembali hasil yang dibuat oleh teknologi.
Hal ini menjadi semakin penting karena perubahan teknologi bukan fenomena sementara. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menyebut perubahan teknologi sebagai salah satu faktor utama yang akan membentuk pasar kerja hingga 2030. Dalam survei terhadap lebih dari 1.000 perusahaan yang mewakili lebih dari 14 juta pekerja di 55 perekonomian, 86% pemberi kerja memperkirakan AI dan teknologi pemrosesan informasi akan menjadi faktor transformasi bisnis hingga 2030. Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa kesenjangan keterampilan menjadi salah satu hambatan utama bagi transformasi bisnis.
Di titik ini, saya melihat ada tanggung jawab yang harus dibagi antara perusahaan dan karyawan. Perusahaan tidak bisa sekadar mengatakan bahwa karyawan harus “melek digital” tanpa memberikan pelatihan dan ruang belajar yang cukup. Sebaliknya, karyawan juga tidak bisa terus berlindung di balik alasan bahwa teknologi adalah tanggung jawab bagian IT. Perubahan bisnis pada akhirnya akan menyentuh hampir semua fungsi pekerjaan.
Kritiknya justru ada di sini: jangan sampai istilah transformasi digital hanya menjadi bahasa baru untuk menuntut produktivitas yang lebih tinggi dari karyawan.
Perusahaan mungkin mengatakan bahwa AI digunakan untuk meningkatkan efisiensi. Itu memang bisa terjadi. Namun, efisiensi seharusnya tidak dimaknai hanya sebagai kemampuan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dengan jumlah orang yang sama. Perusahaan juga perlu memikirkan apakah karyawannya memiliki kompetensi yang cukup, apakah beban kerja berubah, bagaimana data perusahaan dilindungi, dan apakah karyawan memahami batas penggunaan teknologi tersebut.
Contoh sederhananya dapat ditemukan dalam penggunaan AI untuk membuat laporan, merangkum dokumen, menyusun email, atau mengolah informasi. Pekerjaan tersebut memang bisa menjadi lebih cepat. Tetapi hasil AI tidak selalu dapat diterima begitu saja. Manusia tetap harus memeriksa konteks, akurasi, dan kerahasiaan informasi yang digunakan. Jika karyawan hanya mengejar kecepatan tanpa memiliki kemampuan untuk melakukan verifikasi, teknologi justru dapat mempercepat kesalahan.
Fenomena digitalisasi di Indonesia sendiri menunjukkan bahwa perubahan tersebut bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan bisnis sehari-hari. Laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan ekonomi digital Indonesia mencapai gross merchandise value (GMV) sebesar 90 miliar dolar AS pada 2024, meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya. Laporan tersebut juga mencatat bahwa AI semakin digunakan dalam berbagai aktivitas bisnis, termasuk pemasaran, untuk meningkatkan efisiensi dan pengalaman pelanggan.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memang memiliki alasan kuat untuk beradaptasi. Namun, semakin besar penggunaan teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap SDM yang mampu menggunakannya secara bertanggung jawab.
Karena itu, saya berpendapat bahwa transformasi digital seharusnya dimulai dari masalah bisnis, bukan dari keinginan membeli teknologi terbaru. Jika perusahaan memiliki masalah dalam pengelolaan dokumen, cari teknologi yang memang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Jika masalahnya adalah pelayanan pelanggan, gunakan teknologi yang mampu memperbaiki pengalaman pelanggan. Jika masalahnya adalah pekerjaan yang terlalu banyak dan berulang, otomatisasi dapat menjadi pilihan. Setelah itu, perusahaan perlu bertanya: keterampilan apa yang harus dimiliki karyawan agar teknologi tersebut benar-benar bekerja?
Cara berpikir seperti ini juga membuat program upskilling dan reskilling menjadi penting. Karyawan perlu diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki sekaligus mempelajari keterampilan baru. Namun, pelatihan tidak seharusnya hanya berupa seminar satu hari yang kemudian selesai. Pembelajaran harus dikaitkan dengan pekerjaan nyata agar karyawan memahami bagaimana teknologi digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Bagi karyawan, perubahan ini juga menjadi pengingat bahwa bertahan hanya dengan kemampuan lama bukan lagi pilihan yang terlalu aman. Dunia kerja berubah, dan kemampuan untuk belajar menjadi semakin penting. Tidak semua orang harus menjadi ahli teknologi, tetapi setiap orang perlu memiliki kemauan untuk memahami teknologi yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Pada akhirnya, saya melihat transformasi digital sebagai perubahan hubungan antara manusia, teknologi, dan proses bisnis. Teknologi memang dapat menjadi mesin penggerak, tetapi manusia tetap menentukan bagaimana mesin tersebut digunakan. Perusahaan yang hanya membeli teknologi tanpa mempersiapkan SDM berisiko memiliki sistem yang canggih tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Sebaliknya, SDM yang mau berkembang tetapi tidak didukung perusahaan juga akan kesulitan menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.
Jadi, ketika perusahaan mengatakan sedang melakukan transformasi digital, mungkin pertanyaannya tidak cukup hanya “teknologi apa yang sudah digunakan?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang berubah dari cara manusia bekerja setelah teknologi itu hadir?”
Sebab pada akhirnya, transformasi digital bukan tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Transformasi digital adalah tentang bagaimana teknologi tersebut mengubah cara perusahaan bekerja, bagaimana manusia beradaptasi terhadap perubahan, dan apakah perubahan itu benar-benar menciptakan nilai. Teknologi bisa dibeli, tetapi kemampuan manusia untuk menggunakannya secara tepat harus dibangun.
Daftar Pustaka
Google, Temasek, & Bain & Company. (2024). e-Conomy SEA 2024: Profits on the rise, harnessing SEA’s advantage. Google.
Microsoft & LinkedIn. (2024). Work Trend Index 2024: AI at Work Is Here. Now Comes the Hard Part. Microsoft.
World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. Geneva: World Economic Forum.











