Di Balik Ramainya Pemberitaan Media Namun Dangkal Substansinya

Salma Nur Azkia (Mahasiswi Institut Ummul Quro Al Islami Bogor)

- Penulis

Kamis, 25 Desember 2025 - 19:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

kirimartikel.com/ | Maraknya pemberitaan suatu peristiwa kerap dianggap sebagai tanda bahwa media telah menjalankan fungsi informatifnya secara optimal. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Di tengah derasnya arus berita, substansi persoalan sering kali tenggelam oleh narasi sensasional, konflik verbal, dan potongan informasi yang tidak utuh. Akibatnya, publik ramai membicarakan peristiwa, tetapi minim memahami akar masalahnya.

Fenomena Pemberitaan yang Ramai namun Dangkal

Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai kasus—baik hukum, kebijakan publik, maupun konflik sosial—menjadi sorotan utama media. Pemberitaan hadir silih berganti dengan judul mencolok dan diksi yang menggugah emosi. Namun, fokus utama kerap berhenti pada siapa yang bersalah, siapa yang paling kontroversial, dan bagaimana respons publik di media sosial.

Aspek yang lebih mendasar, seperti latar belakang struktural, data pendukung, serta dampak jangka panjang dari suatu peristiwa, sering kali hanya disinggung sekilas atau bahkan diabaikan. Padahal, substansi inilah yang seharusnya menjadi fondasi pemahaman publik agar tidak terjebak pada penilaian yang dangkal dan emosional.

Data Konsumsi Berita dan Tantangan Media Digital

Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat turut memperparah kondisi ini. Sejumlah riset literasi media menunjukkan bahwa mayoritas pembaca berita digital hanya membaca judul dan satu hingga dua paragraf awal. Artikel panjang dengan analisis mendalam cenderung memiliki tingkat keterbacaan lebih rendah.

Kondisi tersebut mendorong media daring untuk memproduksi berita cepat dan ringkas demi mengejar klik dan trafik. Laporan Dewan Pers juga menyoroti kecenderungan media online yang mengutamakan kuantitas konten dibandingkan kualitas kedalaman informasi. Akibatnya, berita menjadi ramai, tetapi miskin konteks.

Baca Juga :  Perubahan Besar Dimulai dari Keputusan Kecil dalam Pikiran

Pandangan Narasumber

Pakar komunikasi massa dari salah satu perguruan tinggi negeri menilai bahwa situasi ini berpotensi merugikan publik.

“Media seharusnya tidak hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga membantu masyarakat memahami mengapa peristiwa itu terjadi. Ketika konteks dihilangkan, publik hanya mendapatkan potongan cerita yang bisa menyesatkan,” ujarnya.

Pendapat serupa disampaikan peneliti media yang menegaskan bahwa keberimbangan berita tidak cukup hanya menghadirkan dua narasumber dengan pandangan berbeda. “Keberimbangan juga berarti memberikan ruang bagi data, latar belakang, dan analisis. Tanpa itu, berita hanya menjadi konsumsi sesaat,” katanya.

Konteks Penting: Dampak bagi Publik dan Demokrasi

Pemberitaan yang ramai tanpa substansi memiliki dampak serius. Publik berisiko membentuk opini berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Dalam konteks kebijakan publik, hal ini dapat memicu kesalahpahaman, memperbesar polarisasi, dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap media maupun institusi negara.

Selain itu, media yang terlalu fokus pada aspek sensasi berpotensi menggeser fungsi jurnalistik sebagai sarana edukasi publik. Media tidak lagi menjadi ruang klarifikasi dan pencerahan, melainkan sekadar arena reproduksi konflik dan emosi.

Penutup / Kesimpulan

Ramainya pemberitaan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas informasi yang diterima publik. Ketika media lebih mengutamakan kecepatan dan sensasi dibandingkan kedalaman dan konteks, substansi masalah justru terabaikan. Padahal, tugas utama media bukan hanya membuat publik tahu bahwa suatu peristiwa terjadi, melainkan membantu masyarakat memahami mengapa peristiwa itu terjadi dan apa implikasinya.

Baca Juga :  Strategi dan Restorasi Kurikulum OBE (Outcome Based Education) di UNPAM.

Oleh karena itu, media perlu kembali menegaskan perannya sebagai penjaga nalar publik. Pemberitaan yang baik bukan sekadar ramai dibaca, tetapi mampu memperkaya pemahaman dan mendorong sikap kritis masyarakat. Tanpa upaya tersebut, derasnya arus informasi hanya akan menghasilkan kebisingan, bukan pengetahuan.

 

Sumber:

Dewan Pers Republik Indonesia

Pedoman Pemberitaan Media Siber dan laporan evaluasi kualitas jurnalisme digital

➝ Digunakan untuk memperkuat argumen tentang kecenderungan media daring yang mengejar klik dan kecepatan dibanding kedalaman substansi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo RI)

Laporan literasi digital nasional dan perilaku konsumsi informasi masyarakat

➝ Mendukung pembahasan tentang rendahnya literasi media dan pola konsumsi berita masyarakat yang cenderung membaca judul tanpa konteks.

Nielsen Indonesia

Digital Media Consumption Report

➝ Menjadi rujukan data terkait kebiasaan audiens dalam mengonsumsi berita online dan pengaruh trafik terhadap produksi konten media.

Pew Research Center

Reports on News Consumption, Media Trust, and Information Overload

➝    Memperkuat     analisis     tentang     fenomena     information     overload          dan menurunnya pemahaman publik meski paparan berita meningkat.

McQuail, Denis. (2010). McQuail’s Mass Communication Theory

➝ Digunakan sebagai landasan teori komunikasi massa terkait fungsi media, framing berita, dan tanggung jawab media dalam membentuk opini publik.

Follow WhatsApp Channel kirimartikel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pendampingan Praktik Penyusunan Surat Lamaran Kerja Bagi Calon Lulusan SMK Triguna Utama 
Analisis Kekurangan Fasilitas Ruang Kelas dan Dampaknya terhadap Proses Pembelajaran di Universitas
Menyongsong Zaman Menuju Pesantren Muhammadiyah Jawa Tengah Berkemajuan
Krisis Makna Komunikasi Tatap Muka di Kalangan Generasi Z
Cara Cepat Menulis Artikel di Media Online
Segitiga Emas Pendidikan Umat: Sekolah, Masjid, dan Keluarga
Bullying di Dunia Pendidikan: Tempat yang Seharusnya Aman Justru Melahirkan Ancaman
99,81 Persen Korban Memilih Diam: Potret Buram Penanganan Kekerasan Seksual di Indonesia
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 16:46 WIB

Pendampingan Praktik Penyusunan Surat Lamaran Kerja Bagi Calon Lulusan SMK Triguna Utama 

Jumat, 24 April 2026 - 10:18 WIB

Analisis Kekurangan Fasilitas Ruang Kelas dan Dampaknya terhadap Proses Pembelajaran di Universitas

Sabtu, 10 Januari 2026 - 22:08 WIB

Menyongsong Zaman Menuju Pesantren Muhammadiyah Jawa Tengah Berkemajuan

Jumat, 9 Januari 2026 - 17:05 WIB

Krisis Makna Komunikasi Tatap Muka di Kalangan Generasi Z

Kamis, 1 Januari 2026 - 16:52 WIB

Cara Cepat Menulis Artikel di Media Online

Berita Terbaru

Teknologi

Peran SDM dan Teknologi dalam Menghadapi Perubahan Bisnis

Jumat, 2 Okt 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Minggu, 28 Jun 2026 - 12:25 WIB