Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

- Penulis

Rabu, 5 November 2025 - 10:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

kirimartikel.com/ | Seperti pada kebanyakan proyek infrastruktur, apapun program dan pembangunan di republik ini, selalu membonceng perangai konspirasi, manipulasi dan korupsi. Ada uang besar untuk segelintir orang dari elit kekuasaan, yang tersisa buat rakyat hanya utang, rente dan beban pajak selangit

Tak ada kata-kata yang paling bijak, rasional dan faktual menggambarkan Whoose sebagai kereta cepat di Indonesia, selain rangkaian utang, korupsi dan konspirasi yang menyelimutinya.

Proyek mercusuar yang ambisius berlabel Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) itu, layak disebut proyek gegabah, mubazir dan lebih memprihatinkan lagi dipenuhi manipulasi dan korupsi.

Selain tidak ada perencanaan yang matang dan tidak berbasis skala prioritas, KCJB dalam pembangunannya banyak masalah termasuk konsep yang berubah-ubah, molor waktu pelaksanaannya, hingga pembiayaan dan utang yang membengkak.

Penyimpangan signifikan keberadaan proyek kereta Whoose, bisa dilihat dari bergesernya konsep businnes to businnes (B2B) menjadi businnes to government (B2G) yang berimplikasi pada penggunaan APBN, kerugian 4,1 triliun pertahun, hingga manfaatnya tidak bisa dirasakan secara maksimal, efisien dan efektif oleh masyarakat luas.

Baca Juga :  Bukan Tidak Peduli, Tapi Tak Tahu Cara Merasa: Avoidant dalam Perspektif Komunikasi Hati

Terlebih jika dikomparasi dengan program kereta cepat yang ada di negara lain seperti Saudi Arabia yang hanya menggelontorkan dana sekitar 112 triliun untuk jarak tempuh sekitar 1500 km.

Bandingkan dengan Whoosh yang menelan biaya mencapai 113 triliun dan membengkak hingga 19,96 triliun dengan bunga utang 2% hanya untuk jangkauan 142 KM. Bahkan sebelumnya Jepang menawarkan hanya membutuhkan investasi 40 tahun sebesar kurang lebih 97 triliun dengan bunga 0,1% untuk KCJB.

Whoose menjadi proyek serampangan, membabi-buta dan menghasilkan segala cara untuk kepentingan dan keserakahan orang-orang dan kempok tertentu yang berakibat kerugian besar negara dan beban derita rakyat yang menghimpit.

Banyak kalangan menilai kereta cepat menjadi tidak mendesak di tengah kondisi sosial ekonomi sebagian rakyat Indonesia didera kemiskinan dan kebodohan. Salah satunya Ignatius Jonan mantan menteri perhubungan yang berhasil dan sukses menata sistem dan infrastruktur kereta api di Indonesia. Bukan hanya dari efisiensi pembiayaan, namun efektifitas dan manfaatnya dirasakan juga ga tidak maksimal dan bahkan tidak relevan untuk kepentingan rakyat.

Baca Juga :  Zona Dua Satpam: Mengenal Titik Lemah dalam Strategi Pengamanan

Whoose (hus) namanya, seperti diambil dari sebuah ungkapan bunyi yang sekelebat dan kencang, sesuatu yang nyaris tak tak terdengar dan terlihat. Seperti itulah penamaan KCJB yang menuai kritik pedas dan gugatan publik sekaligus keprihatinan nasional.

Sejatinya, Whoose merupakan kereta api yang menyala dari semangat halusinasi menggandeng ambisi bertubi-tubi dan hasrat legasi yang tak tahu diri mengorbankan negeri.

Whoose pada akhirnya hanya menyandang nama kereta cepat yang berdampak utang, pajak dan eksploitasi keuangan negara yang membuat rakyat semakin depresi.

Whoose, cepat manipulasinya. Cepat korupsinya. Cepat konspirasinya. Saking cepatnya, tak terlihat dan tak terdengar lagi, siapa yang harus dan paling bertanggungjawab.

Bekasi Kota Patriot.
9 Jumadil Awal 1447 H/31 Oktober 2025.

Follow WhatsApp Channel kirimartikel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bukan Tidak Peduli, Tapi Tak Tahu Cara Merasa: Avoidant dalam Perspektif Komunikasi Hati
Tamsil Linrung: Seorang Sahabat, Orang Tua, dan Guru
Standar Jumlah Kata dalam Artikel Online: Antara Kebutuhan Pembaca dan Strategi SEO
Clickbait Geopolitik
Zona Dua Satpam: Mengenal Titik Lemah dalam Strategi Pengamanan
Mengenal Rahasia Autofagi pada Tubuh Manusia
Pengalaman Pertama Kerja Outsourcing: Apa yang Harus Dipersiapkan?
Etika Berbicara, Bisnis Berkembang: Koneksi Tak Terbantahkan antara Komunikasi dan Kepercayaan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:09 WIB

Bukan Tidak Peduli, Tapi Tak Tahu Cara Merasa: Avoidant dalam Perspektif Komunikasi Hati

Jumat, 24 April 2026 - 11:12 WIB

Tamsil Linrung: Seorang Sahabat, Orang Tua, dan Guru

Selasa, 21 April 2026 - 05:53 WIB

Standar Jumlah Kata dalam Artikel Online: Antara Kebutuhan Pembaca dan Strategi SEO

Senin, 9 Februari 2026 - 06:10 WIB

Clickbait Geopolitik

Minggu, 25 Januari 2026 - 10:58 WIB

Zona Dua Satpam: Mengenal Titik Lemah dalam Strategi Pengamanan

Berita Terbaru

Teknologi

Peran SDM dan Teknologi dalam Menghadapi Perubahan Bisnis

Jumat, 2 Okt 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Minggu, 28 Jun 2026 - 12:25 WIB